Hidup bagaikan debu yang di terbangakan angin, di bawa oleh angin menyusuri lorong lorong langit dan jalan jalan di bumi. Menutup setiap permukaan dengan sesuka hati, menebarkan aroma kegelapan yang menyesakkan nafas, kemudian setelah angin datang kembali, debu beranjak pergi mencari tempat yang pantas untuk dinikmati.
Memang hidup bagaikan debu tapi hidup bukanlah debu, bukan pula roda, jembatan atau bahkan perjuaangan. Hidup adalah hidup penuh misteri juga belumur kegelisahaan.
kegelisahaan setiap anak manusia tentang kehidupanya selain itu hidup juga punya sisi lain, kebahagian, kegembiraan, kesenangan dan sejuta kenikmatan lain yang pantas untuk dinikmati, membaur jadi satu dalam dimensi serta cerita hidup manusia.
Hidup tidak seperti mengunyah permen karet saat kit bosan dengan mudah kita bisa meludahkanya di pinggir jalan atau di tong sampah dan hidup juga tidak sesulit yang kita bayangkan.
Jadi apakah arti hidup.
Yaa…..
Sebuah pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban yang tidak gampang.
Beberapa banyak dari manusia yang telah lahir di dunia dn memiliki cerita hidup yang menjadi sejarah untuk generasi berikutnya tak pernah tahu apa arti hidup yang sebenarnya, serta apa yang di inginkan hidup dari mereka.
Berapa nbanyak dari manusia hidup degan sikap egois, melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang manusiawi demi memuaskan nafsu dan ego yang dimilikinya.
Coba kita lihat sekarang apa yang `terjadi dengan bumi kita. Pemanasan global yang meyebabkan rusaknya lapisan atsmosfire serta pecah dan mencairnya beberapa bagian es di kutub utara, kerusakkan itu tidak hanya membahayakan manusia tapi semua isi planet kita yaitu bumi di mana tempat kita tinggal sekarang.
Bagaimana dengan diri kita?
Apakah kita pernah sadar dengan tujuan hidup kita?
Kalau iya tentunya itu adalah hal yang sangat menggagumkan….
Dan pertanyaan yang timbul berkutnya adalah
Apakah tujuan hidup kita itu bermanfaat untuk orang lain, linkungan dan kehidupan.
Biarkan saya memberikan sebuah contoh yang sering kita alami dalam keseharian kita,…. berapa banayak uang yang kita habiskan untuk makanan dan liburan yang mewah?
Sementara kita tahu di belahan bumi lain saudara saudara kita menderita kelaparan, makan sekali sehari sudah sangat bagus bagi mereka. Tapi kita dengan mudahnya meninggalkan meja makan apabila kita tidak suka dengan makananya kebanyakan garam, mayonaise, sambal atau alasan lain yang membuat kita tak menyentuh makanan tersebut sehingga makanan tersebut berakhir di tong sampah.
Kita tidak pernah sadar akan hal ini atau pura pura tak sadar, apapun itu alasanya hidup ini bukan hanya milik kita sendiri dan tentunya kita tidak berhak berbuat sesuka hati.
Pernakah kau buka jendela kamarmu dan perhatikan keadaan sekelilingnya, berapa banyak hal yang telah berubah, mungkin beberapa menjadi lebih baik tapi sebagian yang lain jadi lebih buruk.
Nah ….. sekarang apa yang akan kita lakukan?
Berteriak keseluruh penjuru dunia ”stop global warming ” tanpa ada tindakan nyata…
Bukan………………..
Mari kta bangun dari kebiasaan buruk menjadi lebih baik, membuang sampah, limbah dan kotoran pada tempatnya, daur ulang, mematuhi aturan yang berkaitan dengan linkungan, membantu dan berbagi dengan sesama, lebih hemat dalam pemakaian energi serta lebih peka terhadap linkungan sekitar tempat tinggal kita.
Bukankah itu jauh lebih baik daripada seedar berbicara tanpa ada tindakan nyata. Banyak hal kecil yang perlu kita perhatikan, karena dari hal kecil itu mnimbulkan efek yang luar biasa.
Lakukanlah hal ini dengan cara kamu, sesuai dengan kemampuan kamu. Tidak selamanya berwujud materi, senyuman, dukungan, dan nasihat juga merupakan sebuah bentuk kasih sayang yang berbeda.
Cintai kehidupan dan isinya sehingga hidup jauh lebih berarti dan mudah di mengerti, dari hal itu kita akan tahu apa arti hidup
“Keep life spirit and share”
“Meru”

